Resiko Investasi Reksadana, Dikenali untuk Diantisipasi

Resiko Investasi Reksadana, Dikenali untuk Diantisipasi

Kegiatan investasi dikenal memiliki konsep High Risk – High Return dan Low Risk – Low Return. Artinya adalah setiap kegiatan investasi memiliki resiko investasi. Semakin tinggi keuntungan yang diharapkan maka semakin tinggi pula resikonya. Begitu juga sebaliknya, semakin rendah keuntungan yang didapat maka semakin rendah resikonya.

Reksadana sebagai salah satu jenis kegiatan investasi, selain memiliki berbagai keuntungan yang ditawarkan tentu memiliki resikonya tersendiri, mulai dari resiko yang rendah hingga resiko tinggi sesuai dengan karakteristik yang dimiliki oleh setiap produk.

Sebelum memulai untuk berinvestasi reksadana, tidak hanya mengenal keuntungannya saja. tetapi alangkah baiknya jika kita juga mengenal  resiko yang ada agar dapat diantisipasi.

Keuntungan yang Tidak Tetap sebagai Resiko Investasi

Resiko investasi reksadana yang pertama adalah, setiap keuntungan yang akan kita dapatkan tidak memiliki persentase yang tetap. Kembali ke konsep utama dari investasi, semakin tinggi resikonya maka semakin tinggi pula keuntungannya, semakin rendah resikonya maka semakin rendah keuntungannya.

Hal ini mengacu pada besaran penghitungan Nilai Aktiva Bersih (NAB) yang diterbitkan setiap harinya. Resiko penurunan atau kenaikan keuntungan tentu tidak dapat dihindari oleh investor reksadana, namun kita tidak perlu khawatir karena resiko ini dapat diminimalisir.

Salah satu tugas dari Manajer Investasi adalah meminimalisir resiko penurunan NAB dengan cara menganalisa serta memperkirakan waktu yang tepat untuk mengalokasikan modal reksadana serta melakukan diversifikasi investasi.

Resiko Likuiditas

Resiko Likuiditas adalah resiko investasi yang juga akan anda jumpai jika berinvestasi. Resiko Likuiditas adalah resiko dimana apakah dana yang anda miliki akan tepat waktu dalam proses pencairan atau tidak, dan seberapa mudah reksadana yang anda miliki dapat dijual atau ditarik.

Peraturan yang ditetapkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) adalah paling lambat 7 hari setelah adanya perintah penjualan atau penarikan dana. Permintaan penjualan atau penarikan yang terlalu besar jumlahnya dalam suatu Manajer Investasi dapat memperbesar resiko terlambatnya penerimaan dana.

Untuk meminimalisir resiko terjadinya penarikan atau penjualan yang terlalu besar di hari yang sama, OJK kembali membuat kebijakan untuk memperbolehkan Manajer Investasi memindahkan proses transaksi ke hari berikutnya jika jumlahnya telah melebihi 10% dari total dana kelolaan.

Perubahan Regulasi dan Nilai Tukar Mata Uang

Kondisi Politik, ekonomi, serta perubahan kebijakan negara juga dapat mempengaruhi kinerja reksadana sebuah perusahaan Manajer Investasi. Seperti contoh yang paling umum adalah adanya peraturan kenaikan pajak. Tetapi pada dasarnya resiko ini paling jarang terjadi karena perubahan peraturan tidak terjadi setiap waktu.

Nah demikian informasi mengenai resiko berinvestasi reksadana. Resiko yang ada tentu saja sangat penting untuk dikenali agar dapat dihindari, sehingga kegiatan berinvestasi dapat berjalan dengan lancar dan mendapatkan Return yang optimal.

Yuk mulai untuk berinvestasi reksadana bersama Sinarmas Asset Management! Untuk informasi lebih lanjut dapat diakses melalui www.sinarmas-am.co.id, Hotline Service Simas Asset Management +62 021-50507000, atau download aplikasi Simas Fund Apps di Play Store atau App Store pada Smartphone anda.