Kenali Risiko Obligasi, Untuk Mencegah dan Hindari Kerugian

Kenali Risiko Obligasi, Untuk Mencegah dan Hindari Kerugian

Kenali Risiko Investasi Obligasi

 Setiap jenis investasi, selain memiliki keuntungan dan keunikannya masing - masing pasti juga memiliki kekurangannya tersendiri, begitu juga dengan obligasi atau surat hutang.

Dari sekian banyak keunikan dan juga keuntungan yang dimiliki obligasi, ternyata juga terkandung risiko didalamnya.

Yuk kenali terlebih dahulu risiko obligasi, agar terhindar dari kerugian dalam berinvestasi :)

 

1. Risiko Gagal Bayar

Dimana - mana, jika namanya adalah berhutang, berarti memiliki risiko adanya kegagalan bayar dari pihak yang berhutang dong? Bisa aja nunggak, atau bahkan gak bayar sama sekali. Waduh!

Sama juga dengan obligasi, perusahaan yang menerbitkan surat hutang memiliki kemungkinan untuk mengalami telatnya pelunasan hutang dari jangka waktu jatuh tempo, atau bahkan gagal bayar nilai pokok hutang beserta dengan bunga nya kepada pihak pemegang obligasi.

Ketidak mampuan perusahaan untuk menyelesaikan tanggung jawab mereka dalam membayarkan nilai obligasi ini, disebut sebagai default.

Tetapi untungnya, kondisi ini memiliki pengecualian untuk obligasi negara, karena obligasi negara telah diatur dan dilindungi menurut undang - undang, jadi SMART Investor tidak perlu khawatir dana nya akan hilang.

 

2. Suku Bunga yang berubah - ubah

Harga obligasi sangat ditentukan oleh naik atau turunnya suku bunga.

Prinsip dari harga obligasi adalah berbanding terbalik dengan naik turunnya tingkat suku bunga.

Artinya, jika suku bunga mengalami peningkatan, harga obligasi akan mengalami penurunan.

Nah sebaliknya, Jika suku bunga mengalami penurunan, maka harga obligasi akan naik.

Seseorang yang ingin menjadi investor obligasi harus jeli dalam memperhatikan laju suku bunga.

Sehingga dapat memperkirakan kapan harus menjual atau membeli obligasi, untuk menghindari kerugian.

 

3. Callability

Sebagai pihak penerbit obligasi, pihak perusahaan memiliki hak untuk membeli obligasi mereka kembali sebelum sampai pada tanggal jatuh tempo.

Biasanya, hal ini terjadi karena suku bunga yang turun, hal ini juga bisa menjadi momentum kerugian bagi para investor atau pemegang obligasi.

Dengan keadaan ini, biasanya pihak penerbit obligasi akan menawarkan ‘obligasi premium’.

 

4. Capital Loss

Jika pada artikel sebelumnya  capital gain dijelaskan sebagai kondisi dimana selisih harga jual obligasi yang lebih besar, jika dibandingkan saat perusahaan menerbitkan obligasi, maka capital loss adalah kebalikannya.

Capital Loss adalah sebuah kondisi, dimana harga obligasi akan lebih rendah saat investor menjualnya di pasar sekunder sebelum jatuh tempo tiba, jika dibandingkan dengan harga pada saat perusahaan menerbitkan obligasi.

Nah, intinya, jika saat investor ingin menjual obligasi, harganya malah lebih rendah dibandingkan saat Ia membelinya, otomatis pasti akan merugi.


Itu tadi adalah 4 jenis risiko dalam berinvestasi obligasi, seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, setiap investasi pasti memiliki tingkat risikonya masing - masing.

Tinggal bagaimana kita sebagai SMART Investor mampu menyikapnya untuk mencegah agar terhindar dari kerugian :)

Untuk itu, jangan lupa selalu mengenali dan juga mempelajari terlebih dahulu sebuah instrumen investasi sebelum terjun kedalamnya.